Setelah sekian lama gak blogging, akhirnya Viy kembali membersihkan blogg ini yang udah berdebu banget saking lamanya gak nulis lagi *huhu alay*. Kali ini Viy mau share ilmu yang mungkin bisa agak bermanfaat bagi kalian, hehe. Ceritanya Viy mau nulis tentang awal mula atau bisa kita sebut sejarah perundingan kontrak karya pertama Freeport di Indonesia nich. Oh iya, untuk sumber yang aku baca itu buku berjudul "Gresberg" karya George A. Mealey dan sebuah buku karya Pak Soehoed ya, jadi aku ga sembarangan ngambil dari web, hihihi. Yuk kita mulai ceritanya,
semoga bermanfaat ^_^
semoga bermanfaat ^_^
Pada pertengahan tahun 1930-an, dua pemuda Belanda
Colijn dan Dozy, pegawai perusahaan minyak NNGPM, merencanakan cita-cita mereka
untuk mencapai puncak Cartenz. Petualangan mereka adalah langkah pertama bagi
pembukaan pertambangan di Tanah Papua pada empat puluh tahun berikutnya. Pada ekpedisi yang
dilakukan oleh Dr. Jean Jacques Dozy, ditemukan suatu Gunung Bijih yang diberi
nama Ertsberg. Gunung ini merupakan gunung endapatan bijih logam
terbersar di dunia. Gunung Bijih tersebut terdapat di pegunungan Jayawijaya.
Selain penemuan tentang gunung Ertsberg, Dozy juga menyebut tentang
anomali-anomali tumbuhan rumput yang terlihat di atas suatu gugus pegunungan
beberapa kilometer di sebelah timur gletser. Gugus pegunungan rumput tersebut
diberi nama Gresberg oleh Dozy, yang berarti gunung rumput dalam bahasa
Belanda. Catatan pertama tentang pegunungan salju di tanah Papua terdapat dari
buku harian Kapten Johan Carstensz yang tiba di perairan sebelah selatan Tanah
Papua pada lintang 5o 14’ selatan pada tahun
1623. Setelah sampai di selatan. Penemuan geogolog NNGPM J.J. Dozy merupakan
cikal bakal pertambangan emas dan tembaga PT. Freeport Indonesia yang dilakukan
setengah abad kemudian.
Pada tahun 1950-an,
Forbes Wilson adalah seorang kepala eksplorasi suatu perusahaan Amerika
yang berkantor pusat di Manhattan, New York. Perusahaan tersebut adalah
Freeport Sulphur Company. Freeport Sulphur Company adalah suatu perusahaan
tambang belerang yang berasal dari bawah dasar laut dan menjadi pemasok
belerang terbesar di dunia. Salah satu ciri khas Freeport adalah hasratnya
untuk menjadi perusahaan tambang terbesar di dunia dan terus melebarkan sayap
perusahaannya selebar-lebarnya di dunia. Pada tahun 1950-an, Freeport Sulphur
merasa endapan bijih yang ada tidak cukup untuk diolah dan ditambang sehingga
Forbes Wilson diberi tugas untuk mencari prospek-prospek endapan baru di mana
pun di dunia. Ketika Wilson berkunjung ke Belanda, ia bertemu dengan kawannya
lamanyan Jan van Gruisen, seorang manager direksi dari perusahaan Oost Borneo
Maatschappij (Perusahaan Kalimantan Timur) yang mengeksploitasi batu bara
yang ada di Kalimantan Timur dan menguasai tambang aspal di Pulau Buton. Pada
tahun 1950-an perusahaan tersebut diambil alih oleh Departemen Pekerjaan Umum
RI, namun saat ini perusahaan tersebut tidak begitu berkembang.
Gruisen menceritakan
kepada Wilson bahwa saat ini ia sedang meninjau kemungkinan untuk
mengeksploitasi nikel di Papua dan menelusuri dokumentasi yang dihasilkan dari
penelitian yang ditulis oleh Dozy pada tahun 1939 di majalah geologi di Leiden,
Belanda. Gruisen sendiri sebenarnya ragu pada proyek eksploitasi tersebut
karena lokasinya yang terpencil dan sulit untuk digapai. Mendengar cerita dari
Gruisen, Wilson langsung tertarik untuk menaklukan gunung tembaga tersebut.
Walaupun Freeport pada dasarnya merupakan perusahaan tambang belerang namun
laporan Dozy rupanya cukup menarik Freeport untuk melebarkan usahanya ke bidang
tembaga. Setelah mempelajari laporan yang ditulis oleh Dozy, Wilson mengajukan
proposal ekspedisi ke Gunung Bijih ke kantor pusat Freeport di New York dan
mendapat dana sebanyak US$120,000[1].
Pada tanggal 1 Februari
1960, ditandatangani suatu kesepakatan ekspedisi antara van Gruisen dan Wilson.
Dengan segera dipersiapkan pula perlengkapan logistik untuk persiapan
perjalanan panjang dari New York-Hongkong-Biak-Papua Selatan. Dalam ekpedisi
tersebut turut serta beberapat insinyur tambang, ahli geologi, ahlo botani,
serta seorang perwira polisi perakan Ambon-Perancis. Ekpedisi tersebut berbekal
dari peta udara milik tentara Amerika. Rombongan tersebut menaklukan alam liar
Papua yang berupa rawa-rawa, gunung terjal, dataran tinggi serta dataran
rendah. Rombongan Wilson beruntung karena dipertemukan oleh pasrtor katolik
J.P. Koot dengan seorang suku asli Amungme dari lembah Tsinga bernama Mozes
Tembok Kelangin yang menunjukan seluk beluk wilayah di Papua Selatan tersebut.
Fokus Wilson-Gruisen adalah gunung Bijih bukanlah pegunungan salju sehingga
tidak membutuhkan perlengkapan pendakian es dan salju. Sampainya di Gunung
Bijih Ertsberg, ternyata para geolog Freeport tertarik dengan prospek lain
sebelah Timur endapan tersebut, yaitu endapan raksasa Grasberg. Pertama kali
Wilson melihat Gunung Bijih, ia mencatat pada buku hariannya bahwa ia sangat
kagum dan dengan khidmat memandangi Gunung Bijih tersebut. Dengan palu geologi
yang ia bawa, ia memecahkan brongkol batu hitam yang jatuh dari gunung dan
mendapati lapisan dalamnya tampak emas berkilauan dari calcopryte,
sulfida dari besi dan tembaga.
Pada awal tahun
1960-an, belum ada alat angkut yang dapat mengangkut alat bor dengan cepat ke
wilayah pegunungan yang tingginya 3.600 mdpl itu. Helikopter bermesin piston
hanya mampu mengangkat satu alat bor ringan saja, itu pun harus di bongkar
menjadi bagian kecil dan merakitnya kembali di atas dan membutuhkan waktu
berbulan-bulan. Kendala lain terdapat pula pada kondisi politik Papua yang
menjadi wilayah sengketa antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah
Belanda. Sengketa memuncak setelah adanya gerakan militer ke Papua, yang
dikenal sebagai aksi Trikora (Tri Komando Rakyat) dengan Jendral Soeharto
sebagai panglimanya. Sengketa tersebut terdengar sampai PBB yang menghasilkan
suatu rencana yang disusun oleh Ellsworth Bunker untuk menyerahkan Tanah Papua
di bawah pengawasan PBB kemudian dialihkan kepada Pemerintah Republik Indonesia
pada tahun 1963. Kemudian terjadi jajak pendapat yang menyatakan bahwa
masyarakat Papua setuju bahwa mereka tetap berada dalam pemerintahan Republik
Indonesia. Jajak pendapat tersebut selesai pada tahun 1969 dan Papua resmi
menjadi bagian dari NKRI. Pada tahun 1966 merupakan babak baru dibukanya jalan
bagi Freeport untuk meneruskan proyek Ertsberg.
Pihak
Freeport untuk pertama kalinya datang secara resmi di Jakarta pada awal bulan
Juni 1966. Suasana perjanjian Freeport dengan Indonesia kembali
terkendala karena masalah politik dan ekonomi yang terjadi di Indonesia. Kondisi
politik Indonesia pasca Gerakan 30 September sehingga terjadi beberapa aksi
yang menuntut adanya Orde Baru dalam pemerintah Indonesia. Pemimpin tertinggi
Freeport saat itu adalah Langbourne William mendengar bahwa perusahaan asing,
Texaco berhasil mempertahankan usahanya di Indonesia termasuk pada waktu
pengusiran modal asing di Indonesia. Texaco bertahan di Indonesia kerena peran
Manajer Indonesia, Julius Tahija, seorang usahawan yang gesit dan memiliki
banyak relasi di kalangan pemerintahan. William yang
mengetahui hal tersebut kemudian menemui Tahija. Tahija kemudian
mengatur pertemuan antara Jendral Ibnu Sutowo yang saat itu menjabat sebagai
Menteri Pertambangan dan Perminyakan Indonesia dengan pejabat Freeport di
Amsterdam. Ibnu Sutowo sebenarnya telah mengetahui tentang proyek diam-diam
yang dilakukan oleh Freeport menuju Erstberg, bahkan ada tawaran dari pihak
Jepang yang ingin melanjutkan proyek Erstberg. Namun Ibnu Sutowo merasa pihak
Freeport lebih mampu untuk mengelola Erstberg karena menurut buku Grasberg tulisan
George A. Mealey, pihak Jepang diberikan kesempatan untuk mengembangkan
Erstberg namun pihak Jepang tidak berhasil menemukan Erstberg.
Tahija kemudian
mempertemukan Presiden Freeport, Robert Hill dan Forbes Wilson dengan Ali
Budiarjo sebagai penghubung pemerintah dengan Freeport. Budiarjo mengajarkan
pihak Freeport mengenai tatacara berbisnis menurut adat Jawa yang halus.
Budiarjo berbicara bahwa orang Amerika dan orang Indonesia memiliki perbedaan secara
psikologis, cara berpolitik dan cara berdiplomasi. Orang Indonesia tidak biasa
berbicara secara to the point atau terbuka sehingga Budiarjo berpendapat
harus mengajarkan kepada orang-orang Amerika menangkap pikiran-pikiran orang
Indonesia agar perundingan tersebut berjalan lancar[2]. Awalnya Menteri
Pertambangan Indonesia menawarkan Freeport “bagi hasil”, seperti yang
diterapkan pada sistem pertambangan minyak asing di Indonesia. Namun sistem
kontrak bagi hasil dinilai tidak cocok untuk sistem pertambangan tembaga karena
membutuhkan investasi yang besar dan waktu yang cukup lama untuk sampai pada
tahap produksi. Tim pejabat Indonesia pun menyadari hal tersebut sehingga
menawarkan kepada Freeport untuk membuat suatu konsep kontrak yang baru. Atas
saran ahli hukum Freeport, Bon Duke menyiapkan suatu konsep “kontrak karya”.
Konsep kontrak karya ini adalah kontraktor mendapat hak penuh
terhadap mineral dan tanah, di mana negara tuan rumah langsung mendapatkan hak
atas peralatan dan prasarana dan dalam waktu singkat seluruh operasi menjadi
milik negara[3].
Pada tahun 1967 terjadi
pergantian presiden dari Presiden Soekarno ke Presiden Soeharto. Namun kabar
baiknya, pada awal masa jabatan Presiden Soeharto, hal pertama yang beliau lakukan adalah menarik
investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia melalui Undang-Undang
Pokok Penanaman Modal Asing (UUPMA) pada tahun 1967. Dengan UUPMA tentu saja
memudahkan Freeport untuk menyelesaikan perundingan akan kontrak karya pertama
tersebut. Namun kendala kembali datang karena Pemerintah Indonesia menuntut
serentetatan kewajiban pajak yang tinggi.
Dengan beberapa kali perundingan dan seiring berjalannya waktu, dapat selesai
pula perundingan tersebut. Pada tanggal 5 April 1967, di bawah saksi sorotan
kamera televisi, Menteri Pertambangan Slamet Bratanata dan Perwakilan Freeport
menandatangani Kontrak Karya pertama selama 30 tahun untuk mengembangkan
tambang Erstberg. Kontrak Karya Pertama dengan Freeport adalah kontrak asing
pertama yang ditandatangani oleh Indonesia di bawah UUPMA.
Sumber
Bacaan :
·
Mealey,
A. George. 1999. Grasberg: Penambangan Tembaga dan Emas di Pegunungan Irian
Jaya Pada Endapan yang Paling Terpencil di Dunia. Jakarta: Freeport McMoran
Copper & Gold Inc.
·
Soehoed,
A.R. 2002. Sejarah Perkembangan Pertambangan PT. Freeport Indonesia Jilid I:
Membangun Tambang di Ujung Dunia. Jakarta: Aksara Karunia.