Rabu, 25 Juli 2018

Sejarah Penandatanganan Kotrak Karya Pertama Freeport dengan Indonesia

 Setelah sekian lama gak blogging, akhirnya Viy kembali membersihkan blogg ini yang udah berdebu banget saking lamanya gak nulis lagi *huhu alay*. Kali ini Viy mau share ilmu yang mungkin bisa agak bermanfaat bagi kalian, hehe. Ceritanya Viy mau nulis tentang awal mula atau bisa kita sebut sejarah perundingan kontrak karya pertama Freeport di Indonesia nich. Oh iya, untuk sumber yang aku baca itu buku berjudul "Gresberg" karya George A. Mealey dan sebuah buku karya Pak Soehoed ya, jadi aku ga sembarangan ngambil dari web, hihihi. Yuk kita mulai ceritanya,
semoga bermanfaat ^_^

Pada pertengahan tahun 1930-an, dua pemuda Belanda Colijn dan Dozy, pegawai perusahaan minyak NNGPM, merencanakan cita-cita mereka untuk mencapai puncak Cartenz. Petualangan mereka adalah langkah pertama bagi pembukaan pertambangan di Tanah Papua pada empat puluh tahun berikutnya. Pada ekpedisi yang dilakukan oleh Dr. Jean Jacques Dozy, ditemukan suatu Gunung Bijih yang diberi nama Ertsberg. Gunung ini merupakan gunung endapatan bijih logam terbersar di dunia. Gunung Bijih tersebut terdapat di pegunungan Jayawijaya. Selain penemuan tentang gunung Ertsberg, Dozy juga menyebut tentang anomali-anomali tumbuhan rumput yang terlihat di atas suatu gugus pegunungan beberapa kilometer di sebelah timur gletser. Gugus pegunungan rumput tersebut diberi nama Gresberg oleh Dozy, yang berarti gunung rumput dalam bahasa Belanda. Catatan pertama tentang pegunungan salju di tanah Papua terdapat dari buku harian Kapten Johan Carstensz yang tiba di perairan sebelah selatan Tanah Papua pada lintang 5o 14’ selatan pada tahun 1623. Setelah sampai di selatan. Penemuan geogolog NNGPM J.J. Dozy merupakan cikal bakal pertambangan emas dan tembaga PT. Freeport Indonesia yang dilakukan setengah abad kemudian.


Pada tahun 1950-an, Forbes Wilson adalah seorang kepala eksplorasi suatu perusahaan Amerika yang berkantor pusat di Manhattan, New York. Perusahaan tersebut adalah Freeport Sulphur Company. Freeport Sulphur Company adalah suatu perusahaan tambang belerang yang berasal dari bawah dasar laut dan menjadi pemasok belerang terbesar di dunia. Salah satu ciri khas Freeport adalah hasratnya untuk menjadi perusahaan tambang terbesar di dunia dan terus melebarkan sayap perusahaannya selebar-lebarnya di dunia. Pada tahun 1950-an, Freeport Sulphur merasa endapan bijih yang ada tidak cukup untuk diolah dan ditambang sehingga Forbes Wilson diberi tugas untuk mencari prospek-prospek endapan baru di mana pun di dunia. Ketika Wilson berkunjung ke Belanda, ia bertemu dengan kawannya lamanyan Jan van Gruisen, seorang manager direksi dari perusahaan Oost Borneo Maatschappij (Perusahaan Kalimantan Timur) yang mengeksploitasi batu bara yang ada di Kalimantan Timur dan menguasai tambang aspal di Pulau Buton. Pada tahun 1950-an perusahaan tersebut diambil alih oleh Departemen Pekerjaan Umum RI, namun saat ini perusahaan tersebut tidak begitu berkembang.


Gruisen menceritakan kepada Wilson bahwa saat ini ia sedang meninjau kemungkinan untuk mengeksploitasi nikel di Papua dan menelusuri dokumentasi yang dihasilkan dari penelitian yang ditulis oleh Dozy pada tahun 1939 di majalah geologi di Leiden, Belanda. Gruisen sendiri sebenarnya ragu pada proyek eksploitasi tersebut karena lokasinya yang terpencil dan sulit untuk digapai. Mendengar cerita dari Gruisen, Wilson langsung tertarik untuk menaklukan gunung tembaga tersebut. Walaupun Freeport pada dasarnya merupakan perusahaan tambang belerang namun laporan Dozy rupanya cukup menarik Freeport untuk melebarkan usahanya ke bidang tembaga. Setelah mempelajari laporan yang ditulis oleh Dozy, Wilson mengajukan proposal ekspedisi ke Gunung Bijih ke kantor pusat Freeport di New York dan mendapat dana sebanyak US$120,000[1]


Pada tanggal 1 Februari 1960, ditandatangani suatu kesepakatan ekspedisi antara van Gruisen dan Wilson. Dengan segera dipersiapkan pula perlengkapan logistik untuk persiapan perjalanan panjang dari New York-Hongkong-Biak-Papua Selatan. Dalam ekpedisi tersebut turut serta beberapat insinyur tambang, ahli geologi, ahlo botani, serta seorang perwira polisi perakan Ambon-Perancis. Ekpedisi tersebut berbekal dari peta udara milik tentara Amerika. Rombongan tersebut menaklukan alam liar Papua yang berupa rawa-rawa, gunung terjal, dataran tinggi serta dataran rendah. Rombongan Wilson beruntung karena dipertemukan oleh pasrtor katolik J.P. Koot dengan seorang suku asli Amungme dari lembah Tsinga bernama Mozes Tembok Kelangin yang menunjukan seluk beluk wilayah di Papua Selatan tersebut. Fokus Wilson-Gruisen adalah gunung Bijih bukanlah pegunungan salju sehingga tidak membutuhkan perlengkapan pendakian es dan salju. Sampainya di Gunung Bijih Ertsberg, ternyata para geolog Freeport tertarik dengan prospek lain sebelah Timur endapan tersebut, yaitu endapan raksasa Grasberg. Pertama kali Wilson melihat Gunung Bijih, ia mencatat pada buku hariannya bahwa ia sangat kagum dan dengan khidmat memandangi Gunung Bijih tersebut. Dengan palu geologi yang ia bawa, ia memecahkan brongkol batu hitam yang jatuh dari gunung dan mendapati lapisan dalamnya tampak emas berkilauan dari calcopryte, sulfida dari besi dan tembaga.  


Pada awal tahun 1960-an, belum ada alat angkut yang dapat mengangkut alat bor dengan cepat ke wilayah pegunungan yang tingginya 3.600 mdpl itu. Helikopter bermesin piston hanya mampu mengangkat satu alat bor ringan saja, itu pun harus di bongkar menjadi bagian kecil dan merakitnya kembali di atas dan membutuhkan waktu berbulan-bulan. Kendala lain terdapat pula pada kondisi politik Papua yang menjadi wilayah sengketa antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah Belanda. Sengketa memuncak setelah adanya gerakan militer ke Papua, yang dikenal sebagai aksi Trikora (Tri Komando Rakyat) dengan Jendral Soeharto sebagai panglimanya. Sengketa tersebut terdengar sampai PBB yang menghasilkan suatu rencana yang disusun oleh Ellsworth Bunker untuk menyerahkan Tanah Papua di bawah pengawasan PBB kemudian dialihkan kepada Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1963. Kemudian terjadi jajak pendapat yang menyatakan bahwa masyarakat Papua setuju bahwa mereka tetap berada dalam pemerintahan Republik Indonesia. Jajak pendapat tersebut selesai pada tahun 1969 dan Papua resmi menjadi bagian dari NKRI. Pada tahun 1966 merupakan babak baru dibukanya jalan bagi Freeport untuk meneruskan proyek Ertsberg.


Pihak Freeport untuk pertama kalinya datang secara resmi di Jakarta pada awal bulan Juni 1966. Suasana perjanjian Freeport dengan Indonesia kembali terkendala karena masalah politik dan ekonomi yang terjadi di Indonesia. Kondisi politik Indonesia pasca Gerakan 30 September sehingga terjadi beberapa aksi yang menuntut adanya Orde Baru dalam pemerintah Indonesia. Pemimpin tertinggi Freeport saat itu adalah Langbourne William mendengar bahwa perusahaan asing, Texaco berhasil mempertahankan usahanya di Indonesia termasuk pada waktu pengusiran modal asing di Indonesia. Texaco bertahan di Indonesia kerena peran Manajer Indonesia, Julius Tahija, seorang usahawan yang gesit dan memiliki banyak relasi di kalangan pemerintahan. William yang mengetahui hal tersebut kemudian menemui Tahija. Tahija kemudian mengatur pertemuan antara Jendral Ibnu Sutowo yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pertambangan dan Perminyakan Indonesia dengan pejabat Freeport di Amsterdam. Ibnu Sutowo sebenarnya telah mengetahui tentang proyek diam-diam yang dilakukan oleh Freeport menuju Erstberg, bahkan ada tawaran dari pihak Jepang yang ingin melanjutkan proyek Erstberg. Namun Ibnu Sutowo merasa pihak Freeport lebih mampu untuk mengelola Erstberg karena menurut buku Grasberg tulisan George A. Mealey, pihak Jepang diberikan kesempatan untuk mengembangkan Erstberg namun pihak Jepang tidak berhasil menemukan Erstberg.


Tahija kemudian mempertemukan Presiden Freeport, Robert Hill dan Forbes Wilson dengan Ali Budiarjo sebagai penghubung pemerintah dengan Freeport. Budiarjo mengajarkan pihak Freeport mengenai tatacara berbisnis menurut adat Jawa yang halus. Budiarjo berbicara bahwa orang Amerika dan orang Indonesia memiliki perbedaan secara psikologis, cara berpolitik dan cara berdiplomasi. Orang Indonesia tidak biasa berbicara secara to the point  atau terbuka sehingga Budiarjo berpendapat harus mengajarkan kepada orang-orang Amerika menangkap pikiran-pikiran orang Indonesia agar perundingan tersebut berjalan lancar[2]. Awalnya Menteri Pertambangan Indonesia menawarkan Freeport “bagi hasil”, seperti yang diterapkan pada sistem pertambangan minyak asing di Indonesia. Namun sistem kontrak bagi hasil dinilai tidak cocok untuk sistem pertambangan tembaga karena membutuhkan investasi yang besar dan waktu yang cukup lama untuk sampai pada tahap produksi. Tim pejabat Indonesia pun menyadari hal tersebut sehingga menawarkan kepada Freeport untuk membuat suatu konsep kontrak yang baru. Atas saran ahli hukum Freeport, Bon Duke menyiapkan suatu konsep “kontrak karya”. Konsep kontrak karya ini adalah kontraktor mendapat hak penuh terhadap mineral dan tanah, di mana negara tuan rumah langsung mendapatkan hak atas peralatan dan prasarana dan dalam waktu singkat seluruh operasi menjadi milik negara[3].


Pada tahun 1967 terjadi pergantian presiden dari Presiden Soekarno ke Presiden Soeharto. Namun kabar baiknya, pada awal masa jabatan Presiden Soeharto, hal pertama yang beliau lakukan adalah menarik investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia melalui Undang-Undang Pokok Penanaman Modal Asing (UUPMA) pada tahun 1967. Dengan UUPMA tentu saja memudahkan Freeport untuk menyelesaikan perundingan akan kontrak karya pertama tersebut. Namun kendala kembali datang karena Pemerintah Indonesia menuntut serentetatan kewajiban pajak yang tinggi. Dengan beberapa kali perundingan dan seiring berjalannya waktu, dapat selesai pula perundingan tersebut. Pada tanggal 5 April 1967, di bawah saksi sorotan kamera televisi, Menteri Pertambangan Slamet Bratanata dan Perwakilan Freeport menandatangani Kontrak Karya pertama selama 30 tahun untuk mengembangkan tambang Erstberg. Kontrak Karya Pertama dengan Freeport adalah kontrak asing pertama yang ditandatangani oleh Indonesia di bawah UUPMA.



Sumber Bacaan :

·         Mealey, A. George. 1999. Grasberg: Penambangan Tembaga dan Emas di Pegunungan Irian Jaya Pada Endapan yang Paling Terpencil di Dunia. Jakarta: Freeport McMoran Copper & Gold Inc.

·         Soehoed, A.R. 2002. Sejarah Perkembangan Pertambangan PT. Freeport Indonesia Jilid I: Membangun Tambang di Ujung Dunia. Jakarta: Aksara Karunia.





[1] Soehoed. 2005. Membangun Tambang di Ujung Dunia. Jakarta: Aksara Karunia. Hal 62.
[2] Mealey, A. George. Grasberg: Penambangan Tembaga dan Emas di Pegunungan Irian Jaya Pada Endapan yang Paling Terpencil di Dunia. Freeport McMoran Copper & Gold Inc. 1999: Jakarta. Hal 83.
[3] Ibid.

Senin, 22 Agustus 2016

Mata Kuliah Pengantar Ilmu Sejarah

Hmm, di postingan ini, aku mau kasih review tentang salah satu mata kuliah wajib jurusan Ilmu Sejarah UI di semester satu kemarin, yaitu Pengantar Ilmu Sejarah(PIS). Aku kasih review, bukan berarti aku menguasai banget matkul tersebut, tapi kaya berniat untuk mengingat kembali matkul tersebut biar gak lupa gara-gara matkulnya udah berlalu dan udah jarang aku baca-baca lagi. Intinya sih postingan ini sebagai bahan belajar juga buat diri aku sendiri.

Untuk matkul PIS, memakai beberapa buku referensi seperti : Pengantar Ilmu Sejarah (Kuntowijoyo), Refleksi tentang Sejarah (Ankersmith), Sejarah dan Sejarawan (Nugroho Notosusanto), Pengantar Sejarah sebagai Ilmu, dan An Introduction to Philoshopy of History.

Jadi di kuliah PIS itu kita dituntut kritis mengetahui Sejarah itu sebagai masa lampau yang berarti peristiwa itu bisa terjadi atau bahkan tidak terjadi. Mempelajari masa lalu itu sendiri mencari tau apakah peristiwa yang dikatan bersejarah itu benar-benar ada dan terjadi. Dalam mempelajari sejarah akan timbul pula sikap skeptisisme(keragu-raguan) yang memunculkan beberapa pertanyaan : Benarkah masa silam itu pernah ada? Bertrand Russell(1872-1970) mengatakan bahwa masa silam itu dibayangkan seolah-olah ada atau terjadi. 

Kelanjutan dari skeptisisme adalah Konstruktivisme (menciptakan sesuatu dari apa yang telah dipelajari).  Konstruksi masa silam terjadi berdasarkan bukti historis. Prinsip dari ilmu sejarah adalah mencari kebenaran dengan cara melakukan riset ataupun penelitian yang hasilnya nanti akan ditulis sehingga dinamakna menjadi historiografi.

Selain itu, kita juga mempelajari tentang pemikiran dan filsafat sejarah. Menurut guru besar Ilmu Sejarah UI, Prof Susanto Zuhdi, pemikiran sejarah merupakan bagian pokok yang bersifat berdasar dalam ilmu sejarah yang dapat dirumuskan tentang mengapa dan bagaimana sejarawan "berfikir" dan "memikirkan". Pemikiran sejarah mengkaji tentang filsafat sejarah, teori sejarah dan pengkajian sejarah. Filsafat sejarah sendiri mengkaji aspek-aspek historiografis.

Filsafat sejarah dibagi dua yaitu: 1) Filsafat sejarah Spekulatif yang memandang  arus sejarah faktual dalam keseluruhan untuk menemukan struktur dasar peristiwa tersebut. Struktur dasar tersebut menerangkan mengapa sejarah berlangsung demikian dan hanya dapat begitu. Dan 2) Filsafat Sejarah Kritis yang meneliti sarana-sarana untuk melukiskan masa silam yang dapat dipertanggung jawabkan.

Dengan mempelajari filsafat sejarah, kita dapat mempertajam kepekaan kritis, menguji metodologi dan memperlihatkan tujuan penelitian kajian sejarah. Filsafat sejarah berkaitan dengan diskusi sehingga melatih pemikiran kita untuk lebih kritis pada pemikiran orang lain.

Lalu, di matkul PIS, kita juga akan belajar tentang hermeneutika. Kata Hermeneutika diambil dari bahasa Yunani yang berarti penerjemah atau menerjemah, menafsirkan. Sejarawan perlu untuk menafsirkan teks  dan menerangkan suatu perbuatan. Menafsirkan teks yang seolah-olah mengatasi masa silam serta bahan sejarah agar menentukan titik tolak dari mana kita dapat melihat kesatuan dan
kebertautan. Dalam menerangkan tentang perbuatan, kita menggunakan bahan sejarah agar dapat lebih dalam menyelami masa silam.

Diatas itu review dari catatan pribadi Viyaya untuk matkul PIS. Jadi mohon maaf kalau gak detail karena ini sifatnya hanya review kuliah selama satu semester dan maaf juga kalau ada yang berpendapat kepanjangan. Terimakasih buat mas Yudha (Dr. Yuda B. Tangkilisan, S.S., M.Hum.) yang udah menjadi dosen PIS. Dan sekali lagi mohon maaf apabila ada yang salah san khilaf, karena sekali lagi postingan ini sifatnya hanya review pemahaman viyaya tentang Matkul PIS kemarin. Viyaya sangat terbuka apabila ada masukan, terimakasih ^_^

Minggu, 21 Agustus 2016

Belajar Apa Saja di Tingkat Satu Jurusan Sejarah UI?

Hallo, saat ini aku mau sharing pengalaman aku pas ditingkat satu kemarin. Disemester pertama mata kuliah yang aku pelajari itu ada MPKT (Mata Kuliah Keperibadian Terintegerasi) A yang ada sebanyak 6 sks. MPKT A itu belajar tentang ilmu-ilmu humaniora seperti filsafat, kewarganegaraan, juga ilmu sosial. Lalu ada MPK Seni atau Olahraga yang terdiri dari satu sks. Jadi MPKT dan MPK itu matkul wajib universitas tapi MPK bisa milih seni atau olahraga, dan kemarin aku milihnya MPKS Teater. Setelah matkul wajib univ, ada matkul wajib yang udah dipaketin dan harus diambil maba tingkat satu Sejarah, yaitu Pengantar Ilmu Sejarah yang ada 3sks, Sejarah Indonesia yang juga 3sks, Geografi Sejarah 3sks, dan terakhir ada mata kuliah Bahasa Belanda dasar yang berbobot tiga sks juga.

Disemester dua ada MPKT B yang bobotnya 6sks juga -sama seperti MPKT A- yang isi kuliahnya adalah tentang ilmu-ilmu alam seperti geologi, statistik, geografi dan ilmu alam lainnya. Lalu ada MPK Agama yang bisa milih sesuai agama kita masing-masing. Juga ada MPK Bahasa Inggris. Ketiga matkul tersebut wajib diambil karena merupakan matkul wajib Univ di semester dua. Kalau matkul wajib jurusan Sejarahnya sendiri di semester dua ada Sejarah Kesehatan yang ada 3sks, lalu Sejarah Kesultanan berbobot 3 sks, dan juga Sejarah Dunia yang juga berbobt 3sks.

Untuk postingan saat ini, berupa info matkulnya aja yah? Di postingan selanjutnya baru akan aku jelasin apa saja yang dipelajari dari setiap matkul tersebut dan juga review pelajaran dari masing-masing matkul tersebut. Terimakasih sudah membaca di blog Viyaya ^_^

Hallo

Hai, akhirnya blogging lagi setelah posting terakhir aku, April kemarin. Hmmm, udah empat bulan lalu yah? Gak kerasa waktu cepet banget berjalan yah.... Saat ini aku mau sedikit cerita tentang kegiatanku selama liburan semester genap ini.

Liburan udah mau berakhir nih, gak kerasa hampir tiga bulan aku gak ngebahas tentang mata kuliah sama sekali dan sembilan hari lagi aku bakalan masuk kuliah, aaaaah. Aku ngerasa bodoh banget, demi deh, selama liburan kemarin aku gak ngebaca sama sekali tentang sejarah(jurusan aku). Pokoknya full holiday, makanya aku ngerasa kaya gimana gitu, nanti pas masuk. Hmmmm, emang aku ngapain sih kemarin? huhuhuhu, rasanya nyesel gak belajar, :(

Bulan pertama liburan aku gak pergi keluar kota, karena pas bulan puasa. selama bulan Juni atau bulan puasa itu aku di dalam kota dan berkunjung(Buka puasa) dari satu mall ke mall lainnya, maksudnya jarang buka puasa dirumah. Kalau dirumah, kegiatan puasa aku diisi dengan nonton drakor, beribadah, baca -itupun baca novel, bukan buku sejarah :(-. 

Pas lebaran baru akhirnya aku bisa keluar kota. Hari pertama memang masih diJakarta, full silaturahmi dirumah Amah -diJakarta-, baru hari keduanya ke Jogja, rumah saudara papa. Disana sekitar 3 hari dan langsung ke Cilacap, tempat adiknya Ibu -tanteku-. Lalu ke purwokerto, dan dua hari kemudian pulang ke Jakarta. Karena kena arus balik, macet parah, maka aku dan para sepupu dan para tante hanya istirahat di Jakarta, sorenya baru kita ngemall. Besoknya kita pergi Karawang, disana menginap, lalu kembali ke Jakarta. Setelah itu ke Tangerang. Lalu aku ikut sepupu dan tante ke Cilacap. Namun, saat dijalan, kami kaget, ternyata Amah harus dioperasi keesokan harinya di suatu rumah sakit di Jakarta. Sontak, kami semua kaget, mengapa pemberitahuannya mendadak? Mengapa tidak saat minggu pertama habis lebaran? Sampai di Cilacap, hatiku agak gimana gitu, gak bisa nemenin operasi Payudara Amah yang kedua :(

Besoknya aku dan tante berusaha cari tiket kereta untuk ke Jakarta kembali, karena omku tidak bisa antar kembali ke Jakarta. Sayangnya, kita gak dapet tiket, dan akhirnya keesokan paginya kami naik bis menuju Jakarta. Walau sangat lelah karena baru sampai dua hari kemarin, dan saat itu pula harus pulang dengan terpaksa naik bis -walau kelas bisnis- ttapi prioritas utama aku adalah bisa segera sampai ke Jakart untuk ketemu Amah.

Intinya, aku gak tega banget untuk melihat kondisi Amah saat salah satu payudaranya harus diangkat. Sedih sekali aku, aku belum bisa berbuat apa-apa buat Amah, apalagi aku juga orangnya gak telaten buat ngurus orang sakit :(. Aku cuman bisa temenin amah ngobrol, support Amah juga. Aku yakin Amah itu nenek yang kuat, aku sayang sama Amah.

Setelah empat hari pasca operasi, aku ada urusan di kampus jadi harus ke Depok.  Aku pulang agak sore sekalian bertemu dengan salah satu temanku. Pas nyampe rumah, aku kaget, dan dapet kabar, Apah jatuh, dan gak bisa bergerak sama sekali. Ya ampun aku shock banget. Apah bener-bener gak bisa bergerak, mau dibawa ke ugd tapi Apah maunya pake tradisional aja dengan di urut. Ternyata diurut gak ada perubahan, Apah tidak bisa bergerak sama sekali. Akhirnya om manggil dokter kerumah, dan ternyata harus di MRI karena takutnya ada tulangnya yang patah. Astagfirulllah, aku takut banget, kasihan, sedih. Amah baru aja keluar dari rumah sakit, dan Apah malah kena musibah juga.

Akhirnya besoknya Apah dibawa ke UGD, itupun harus pakai Ambulance, karena Apah bener-bener gak bisa bergerak sama sekali. Almost falling a tears, alat yang dipakai untuk darah kotor pasca operasi Amah belum juga dilepas, dan Apah harus masuk UGD :( Hari itu aku, ibu, om dan tante ke rumah sakit yang sama, ke poli bedah untuk kontrol Amah, dan nganterin Apah juga untuk MRI. hasilnya, Apah harus di terapi dan pastinya harus dirawat. Dalam hatiku, baru seminggu lalu Amah dioperasi dan dirawat, sekarang malah Apah :(

Setelah itu, dua minggu kemudian baru aku bisa keluar kota pasca nemenin -walau gak ngurusin Amah sama Apah :(-. Aku ke Bandung buat nemuin temen SMP aku dulu yang di Papua. Disana aku hanya dua hari, karena dua hari kemudian aku udah harus ke Surabaya. Walau ternyata pas pulang aku ketinggalan kereta, huhuhu, bener-bener jadi pengalaman banget. Syukurnya dua jam kemudian ada kereta untuk ke Jakarta, dan tiket sebelumnya hangus.

Dua hari kemudian aku langsung terbang ke Surabaya untuk KKM bersama mahasiswa sejurusan(Sejarah)ku lainnya. Sampai disana kita langsung ke Madura dan seharian full itu kita keliling Madura untuk penelitian dengan tema KKM "Sejarah Maritim dan Perkotaan". Kita sampai di salah satu hotel di Surabaya sekitar jam 11. Tadinya mau langsung tidur, tapi teman sekamarku punya ide untuk fangirling -nyolokin flashdisk ke tv dan kita karokean-. Dan akhirnya kami baru bisa tidur sekitar pukul 3. Jam 1/2 7 nya kami udah sarapan dan harus segera ke bis pariwisatanya untuk menuju ke Trowulan, Majapahit. Setelah makan siang, kami menuju ke pelabuhan Tanjung Perak lalu lanjut ke House of Sampoerna, makan malam dan menuju hotel. Nyampe hotel jam7an, jadi punya banyak waktu. Abis mandi, biasa dikamarku ramai dengan musik Korea. Temanku yang lain ngajakin ke tugu Pahlawan. Jadi kita kesana, dan pulangnya makan martabak yang ditraktir salah satu temanku.

Besoknya kita ke Unair, dan beli oleh-oleh. Malamnya kita pulang naik kereta. Kita nyampe gambir sekitar jam 4, dan aku nyampe rumah jam setengah 6. Istirahat bentar, sarapan dan mandi trus harus ke kampus Depok untuk beberapa urusan. Abis itu nyampe rumah jam 2 dan tidur..........

Dua hari kemudian temen-temenku yang dari Bandung kemarin -sahabat dari Papua, yang sekarang kulliah dan tinggal di Makassar, kemarin ke Bandung liburan dan meet up- main keJakarta dan nginep di rumah selama 4hari. Selama itu pula kita full ngemall. Kangen banget sama merekaaa......... 

Dan sekarang, minggu-minggu terakhir liburan, aku ngerasa kosong banget gak baca sejarah sama sekali. Rencananya mau ngereview mata kuliah kemarin. Hmmmmm, kayanya postingan setelah ini, bakalan tentang review kuliah kemarin deh.........

Sabtu, 30 April 2016

Love? 사랑? あい? Cinta?

Percayakah kau akan cinta sejati? Hmmmm, aku kurang mempercayai itu. Mengapa? Karena dikehidupan nyataku, aku hidup diantara pasangan yang bercerai. Hal tersebut membuatku kurang percaya akan cinta. Saat SMA memang aku pernah menyukai seorang siswa, sebut saja abc. Ia tidak mengenalku, begitu pula aku juga tidak dekat dengannya. Setelah lulus, aku memutuskan untuk berani chat dia dan memberi semangat karena dia gagal di snm, sbm, dan tes mandiri sekalipun. Namun apa yang aku terima? Dia menjawab pesan semangatku dengan nada *ketikan* yang menyakitkan dan sedikit angkuh.

Iya, aku memang sensitiv, dan gampang tersinggung. Aku marah dan sedih atas jawabannya. Setelah itu, aku tidak akan memberi perhatian yang mudah dengan lawan jenis, ataupun jatuh cinta. Itu bukan cinta, itu hanyalah perasaan yang wajar menurutku dimasa remajaku. Itu berarti aku normal kan? Namun, aku mengambil hikmah, bahwa aku belum pantas untuk menerima cinta dari lawan jenis.

Menjadi secret admirer sekaligus hidup dilingkungan yang banyak perceraian membuat aku kurang percaya akan real love. Namun ada satu pasangan yang aku kagumi dan aku jadikan rolemodel. Aku ingin sepertinya, yang bisa menjadi benar-benar belahan jiwa selama lebih dari 50tahun bahkan hampir 60 tahun bersama sampai saat ini. Mereka adalah Apah dan Amah ku.







Walaupun sudah hidup lebih dari setengah abad bersama, aku melihat tidak ada rasa jenuh diantara mereka, bahkan mereka saling membutuhkan satu sama lain sampai saat ini. Saat keluarga besar kami akan ke Bojonegero bersama, Apah menghilang di hari keberangkatan. Kami pusing dibuatnya, Amah memang agak marah karena anak-anaknya pada sibuk memasak untuk bekal dikereta, sedangkan cucu-cucunya juga sibuk sendiri dengan barang-barangnya, bahkan mbude(yang bantu ibu ngurus rumah) pun ikut kecipratan marah Amah karena bisa lengah, sampai Apah bisa hilang.
.-yg duduk sebelah kiri itu adiknya apah di Bojonegoro, ditengah apah, dikanan ada amah yang memangku salah satu cucunya(sepupuku)

Kasus kedua, saat Amah pergi ke Bogor. Saat itu, salah satu tanteku, menantu Amah, baru hamil kedua. Tanteku tidak dibantu mba, dan anak pertamanya masih 7tahun, sehingga kerepotan, apalagi awal hamil itu berat sekali. Amah pergi kerumahnya di Bogor dan mengurus tante. Setelah 5hari disana, ibu juga berangkat ke Bogor untuk menemani Amah dan Tante. Karena ibu dan adikku di Bogor, aku menginap di rumah Amah bersama seorang sepupuku, om dan Apah. Walaupun jarak rumahku dan rumah Amah kurang dari 1km, tapi aku jarang menginap disana.

Sampai di rumah Amah, aku melihat mata Apah merah dan sembab. Aku tanya ke sepupuku, ada apa dengan Apah? "Tidak tau, mungkin sedih lama ditinggal Amah ke Bogor, Apah juga gak mau makan saat tidak ada Amah." begitu jawaban dari sepupuku. Dalam hatiku, setua apapun Apahku dan Amahku, ternyata mereka berdua itu saling membutuhkan, bahkan saat ditinggal seminggu pun, Apah merasa kehilangan sekali. Oww, so sweet, the real love...... Cinta sejati......

Kasus ketiga. Amah memang sudah merasa ada yang salah dipayudaranya, dan sudah bilang minta diobati kepada anak dan cucunya, termasuk kepadaku juga ke Apah. Trus Amah curhat, katanya gak ada yang peduli untuk nganter Amah ke rs. Sebenarnya, kami sangat peduli dengan Amah, tapi para anak dan cucu Amah yang di Jakarta mungkin sangat sibuk jadi tidak sempat mengantar Amah ke Rs.

Saat tanteku yang tinggal di Cilacap pulang ke Jakarta, Amah mengutarakan kesakitannya ke Tante. Tante berniat membawa Amah ke rs, tapi di rs di Cilacap karena tante gak bisa lama-lama di jakarta. Tante bersedia mengurus Amah untuk operasi namun operasinya diCilacap, karena tante juga harus pulang ke Cilacap mengurus suami dan anak-anaknya.

Sehari sebelum tante pulang ke Cilacap, Amah bersedia dibawa ke Cilacap. Namun, tante hanya berdua bersama Amah, Apah tidak ikut. Walaupun Apah setuju jika Amah pergi, tentu terlihat tatapan sedih diwajah Apah. Esoknya, saat di Cilacap, tante mengabari kami, bahwa Amah harus segera dioperasi. Tentu saja Apah takut, Apah harus ke Jawa untuk menemani Amah operasi. Namun sayangnya kami di Jakarta tidak ada yang bisa mengantar Apah ke Jawa karena sibuk kerja dan kuliah(weekday).

Aku berniat mengantar Apah dan bolos dua hari kuliah, tapi ternyata di hari kamisnya aku presentasi dan dihari jumat juga ada acara dikampus. Amah bilang tidak papa jika Apah ke Cilacapnya hari sabtu, namun Apah tentu saja ingin segera menyusuli Amah. Dan akhirnya omku bersedia mengantar Apah dihari rabunya setelah dibujuk keluarga besar. Akhirnya di hari kamis 28 April kemarin Amah berhasil di operasi.

Walaupun aku tidak berada disamping Apah dan Amah saat ini, aku merasa betapa besarnya chemistry antara Apah dan Amah pasca operasi tersebut melalui photo-photo yang dikirimkan oleh Tante. Terlihat sekali Apah sangat menyayangi Amah, begitupun Amah. Pasangan ini lah yang menurutku cinta sejati.......



Saat ini aku memang kurang mempercayai cinta, tapi aku percaya cinta sejati itu memang akan datang tapi nanti disaat yang tepat....

Sabtu, 30 Januari 2016

What is love?

Love is a nightmare
Love is so cowardly
Loving you but hate you
Wanna end it, but dont wanna end it
So happy, but im hurting so much

Selasa, 05 Januari 2016

Ingatan Tentang SMA

 Hari ini, hari pertama bener-bener free gak ada kerjaan dirumah. Jadi aku memutuskan buat blogging. Selama mingggu pertama sampai minggu kedua libur semester ini diisi dengan quality time bersama keluarga besar ibuku. Dan mulai senin kemarin tanggal empat Januari semua anggota keluarga besar lainnya telah kembali ke rumah dan aktivitas mereka masing-masing. Sedangkan aku masih libur dan seperti gabut gitu di rumah ditemani si mba. Ibu ngajar, Lilla sudah mulai sekolah dan sibuk les, Lieke juga masih UAS jadi tetep berangkat ke UNJ, jadilah aku gabut di rumah.

Kemarin senin, aku  ke SMA aku, SMA 1 Budi Utomo Jakarta karena ada rapat dengan angkatan aku lainnya yang diterima di UI. Kita mau ngadain Project “UI Goes to Budut”. Memasuki Budut, teringat kenangan selama tiga tahun kemarin yang aku habiskan dari waktu usia ABGku sampai ke tahap remajaku disini. Banyak sekali kenangan yang terngiang di ingatanku kemarin.  Aku memang bukan anak yang memiliki banyak teman atau suka bergaul dengan siapapun, tapi aku lebih suka untuk sendiri kemanapun. Bukannya aku tidak memiliki teman, tetapi aku hanya memiliki beberapa teman dekat yang aku rasa nyaman bukan hanya sekedar teman- teman gaul yang kebanyakan menghabiskan waktu mereka untuk nongkrong bersama. Aku bukannya gak suka nongkrong, tetapi aku lebih suka jalan sendiri atau pergi bersama beberapa teman yang hanya aku kenal secara intensif.

Ingatanku saat masa SMA  adalah saat dimana aku belajar sendiri, ngewifi di perpus saat jam kosong bersama beberapa teman dekat, duduk-duduk di koridor Budut sambil nge wifi, tiduran depan kelas pas dibawah ac, membaca novel sambil nyender ke papan tulis tepat dibawah ac dan juga ingatanku yang sering meng-candid tingkah temanku yang lucu dan lainnya. Kenangan lainnya adalah beruntungnya memasuki SMA yang lumayan favorit. Satu-satunya SMA yang tiap tahun maulidnya mengundang ustad Maulana, sering ada acara yang melibatkan alumni yang menjadi orang besar seperti Chairul Tanjung, Cici Tegal, Edies Adelia bahkan saat doa bersama pas aku mau UN kemarin mengundang grup Debu. Pernah juga ikut upacara penurunan bendera merah putih pas kelas 10 tanggal 17 agustus sore mewakili dari Budut. Intinya aku merasa beruntung bisa masuk di SMA bersejarah ini.



Kangen banget masa SMA. Kangen keseharian aktivitasku dulu yang sering dilakukan dan sekarang udah jarang bahkan sudah tidak aku lakukan lagi. Sehari-hari bangun jam lima pagi, mandi, sarapan sambil bersiap-siap sekolah lalu berangkat mendekati pukul setengah tujuh. Pernah beberapa kali telat dan dihukum nyabutin rumput di lapangan voli, eh pas disuruh berhenti malah akunya ketagihan main-mainin tanah. Selama hampir sepuluh jam sehari aku habiskan disekolah. Saat jam kosong atau saat tidak ada guru, aku mencari-cari kesempatan untuk nge-wifi.  Aku orang yang jarang sekali ngobrol sama orang. Jadi disaat jam kosong temanku main dan mengobrol aku biasanya berkutat dengan : 1) HP, 2) Earphone, 3) (kadang) buku, ataupun 4) Novel. Kalau di hari jumat kan biasanya istirahatnya lumayan lama, nah aku biasanya keluar budut buat nyari makan siang di sekitar jalan dr. wahidin biasanya sih aku ditemani seorang teman baikku. Jam setengah empat aku pulang jalan kaki sendiri ke halte busway, kadang bertemu teman yang searah pulangnya dan bersama di busway.
 Jam empat sampai dirumah, istirahat, ngadem di bawah ac kamar, sebentar menyalakan tv atau check sosmed lalu biasanya tertidur sampai maghrib. Jujur aku orang yang moody-an kalau belajar. Biasanya kalau ngerapiin buku untuk pelajaran besoknya, aku membaca sebentar (ngereview sebentar) pelajaran tadi trus check hp lagi dan pada akhirnya bukunya dicuekin. Abis maghrib sampai jam setengah sebelas biasanya aku nonton drama korea di TV kamar. Kurang lebih empat jam tersebut aku mengahabiskan tiga drama berbeda dengan  masing-masing satu episode. Aku bukan menontonnya dari dvd tetapi aku memang sengaja berlangganan televisi berbayar yang terdapat beberapa channel tv korea. Jam 11 biasanya aku tertidur kembali dan bangun di esoknya pada pukul lima atau setengah enam.

suasana kelas yang tercandid kamera hp Viyaya


Kalau sedang UB (Ujian Blok) yang biasanya disekolah hanya mengahbiskan waktu  dua sampai tiga jam untuk ujian dua sampai tiga mata pelajaran. Di budut tidak ada uts ataupun uas apalagi ulangan harian. Jadi nilainya dari UB yang rutin dilaksanakan tiga kali setiap semester atau sekitar dua bulan sekali itu UB. Semester satu sampai semeseter tiga aku dapat bagian UB siang bergantian dengan kelas 11 dan kelas 12. Biasanya masuk jam 10 atau jam 11. Sebelum memulai UB biasanya aku belajar dahulu di perpus. Saat semester empat dan semester lima aku dapat giliran UB pagi dan pulang jam 9 atau paling lama pulang pukul setengah 11. Dulu saat belum ada city tour, sehabis UB biasanya aku iseng jalan-jalan sendiri naik busway dan sampai di rumah jam 12-an. Di kelas 12 sudah ada City Tour, jadi saat selesai UB biasanya aku sendirian keliling naik City Tour. Enakan City Tour dong, gratis udah gitu ac nya adem sekali. Sampai di rumah biasanya tidur siang, makan, dan sorenya membaca-baca materi untuk UB esoknya. Sesekali membuka grup wa, bbm atau line karena biasanya sekelas pada belajar bareng di grup untuk menyebar info-info materi. Aku belajar diselingi menonton drama korea dan sering check-check HP juga. Jadi dulu itu aku duduk di pangkuanku ada kertas-kertas materi UB, ditangan ada HP, mata fokus ke HP tapi telinga mendengar percakapan di drakor dengan sok ngertinya aku mencerna, wkwk pokoknya dulu cukup santai lah.

naik city tour sendiri....


Karena keseharian aktivitas sekolahku yang begitu santai, aku cukup sulit untuk berdiskusi, lebih suka menyendiri, rajin mengerjakan tugas tapi jarang mendapat nilai mendekati Sembilan bahkan lebih sering remedial.  Aku bersyukur, ibuku tidak terlalu memusingkan nilaiku apalagi saat kelas sepuluh menuntut aku agar masuk ipa di kelas 11. Ibu hanya menyuruh belajar dan lakukan yang aku suka asal tidak menyimpang dan tetap prioritaskan sekolah, hasilnya nanti tidak masalah, toh viyaya telah berusaha, begitu katanya. Padahal dulu aku sering sekali menangis apabila banyak nilaiku yang dibawah kkm. Ibu tidak menuntut banyak, tetapi aku malah yang stress sendiri kalau melihat hasil ledger nilai UB yang remednya lumayan banyak. Ibuku bukannya marah malah sebaliknya menghiburku.

Dulu aku sering bingung, aku rasa aku udah belajar maksimal, dan kalau dilihat dari teman-temanku lainnya aku yang paling rajin, tetapi mengapa nilaiku lebih jelek? Aku baru mengerti sekarang, ternyata aku masih terlalu santai dan terlalu menikmati  masa fangirling itu –dan mungkin sampai saat ini- jadi aku rasa saat itu memang belum maksimal sehingga hasil UBku juga banyak yang pas-pasan KKM. Saat kelas sepuluh memang aku agak aktif di ekskul teater. Saat diklat biasanya aku izin pulang sebelum maghrib. Apabila ada latihan untuk tampil, aku juga izin pulang duluan atau sesekali sampai jam Sembilan. Pernah juga menginap di Budut saat pelantikan ekskul juniorku (saat itu aku kelas 12). Saat itu budut ramai karena ketujuh belas ekskul mengadakan pelantikan yang sama di sekolah. Seru banget saat itu.



Oh iya, masa kelas satu SMA itu masa dimana menggebu-gebunya aku untuk nonton konser korea. Di September 2012 aku nonton SMTOWN, maret 2013 aku nonton Mubank dan april 2013 nonton Eru plus Ailee. Setelah naik ke kelas 11 dan 12 aku tidak lagi menonton konser karena ibu tahu tiket yang aku beli biasanya yang jutaan dan itu aku tidak pernah menabung, tetapi meminta dengan ayahku. Saat konser SS6 aku minta tiga juta dengan ayah untuk nonton konser. Seperti biasa dikasih tapi ibu melarangku menggunakannya untuk nonton konser. Huft, jadi semenjak itu aku jarang nonton konser live lagi. biasanya aku nonton konser sendiri. Iya aku lebih suka sendiri sih, pulang jam 11-an dan minta jemput om. Masuk di kelas 12, kesibukanku bertambah karena ditambah dengan intensif dan bimbel. Dikelas 12 aku baru sampai dirumah jam delapan dan ngeriview pelajaran sebentar dan tidak sadar bahkan sampai tertidur.

Kalau lagi bosan dirumah, biasanya juga aku nge-mall sendiri, belanja sendiri, ke gramed nyari buku sendiri bahkan nonton bioskop sendiri. Biasanya sih kalau nonton aku tinggal booking di hp, bayar pakai kartu kredit ibu dan langsung cus blitz cetak tiket dan nonton. Aku tidak suka antre. Hmm, memang dulu itu enak sekali masih santai sekali, mau apa tinggal beli gak suka apa tinggal buang atau tinggalin, bosen tinggal nge-mall sendiri.



Intinya masa SMA adalah masa yang paling berkesan. Masa dimana aku masih santai dan tidak memikirkan apa-apa selain masuk sekolah, diri sendiri, hobby, fangirling dan intinya masa nyamannya sendirian. Saat ini, aku kangen masa-masa itu. Saat ini, aku memang terlihat agak santai tetapi terdapat beban dipikiranku, misal berfikir nanti ingin menjadi apa? Bisa apa aku kalau sekarang masih manja? Apakah aku bisa berhenti hedon? Apakah bisa aku membahagiakan orang tuaku? Entah. Intinya kangen masa SMA yang santai itu …………….. Kangen bersantai tanpa memikirkan apa-apa tentang tanggung jawab……………….