Senin, 22 Agustus 2016

Mata Kuliah Pengantar Ilmu Sejarah

Hmm, di postingan ini, aku mau kasih review tentang salah satu mata kuliah wajib jurusan Ilmu Sejarah UI di semester satu kemarin, yaitu Pengantar Ilmu Sejarah(PIS). Aku kasih review, bukan berarti aku menguasai banget matkul tersebut, tapi kaya berniat untuk mengingat kembali matkul tersebut biar gak lupa gara-gara matkulnya udah berlalu dan udah jarang aku baca-baca lagi. Intinya sih postingan ini sebagai bahan belajar juga buat diri aku sendiri.

Untuk matkul PIS, memakai beberapa buku referensi seperti : Pengantar Ilmu Sejarah (Kuntowijoyo), Refleksi tentang Sejarah (Ankersmith), Sejarah dan Sejarawan (Nugroho Notosusanto), Pengantar Sejarah sebagai Ilmu, dan An Introduction to Philoshopy of History.

Jadi di kuliah PIS itu kita dituntut kritis mengetahui Sejarah itu sebagai masa lampau yang berarti peristiwa itu bisa terjadi atau bahkan tidak terjadi. Mempelajari masa lalu itu sendiri mencari tau apakah peristiwa yang dikatan bersejarah itu benar-benar ada dan terjadi. Dalam mempelajari sejarah akan timbul pula sikap skeptisisme(keragu-raguan) yang memunculkan beberapa pertanyaan : Benarkah masa silam itu pernah ada? Bertrand Russell(1872-1970) mengatakan bahwa masa silam itu dibayangkan seolah-olah ada atau terjadi. 

Kelanjutan dari skeptisisme adalah Konstruktivisme (menciptakan sesuatu dari apa yang telah dipelajari).  Konstruksi masa silam terjadi berdasarkan bukti historis. Prinsip dari ilmu sejarah adalah mencari kebenaran dengan cara melakukan riset ataupun penelitian yang hasilnya nanti akan ditulis sehingga dinamakna menjadi historiografi.

Selain itu, kita juga mempelajari tentang pemikiran dan filsafat sejarah. Menurut guru besar Ilmu Sejarah UI, Prof Susanto Zuhdi, pemikiran sejarah merupakan bagian pokok yang bersifat berdasar dalam ilmu sejarah yang dapat dirumuskan tentang mengapa dan bagaimana sejarawan "berfikir" dan "memikirkan". Pemikiran sejarah mengkaji tentang filsafat sejarah, teori sejarah dan pengkajian sejarah. Filsafat sejarah sendiri mengkaji aspek-aspek historiografis.

Filsafat sejarah dibagi dua yaitu: 1) Filsafat sejarah Spekulatif yang memandang  arus sejarah faktual dalam keseluruhan untuk menemukan struktur dasar peristiwa tersebut. Struktur dasar tersebut menerangkan mengapa sejarah berlangsung demikian dan hanya dapat begitu. Dan 2) Filsafat Sejarah Kritis yang meneliti sarana-sarana untuk melukiskan masa silam yang dapat dipertanggung jawabkan.

Dengan mempelajari filsafat sejarah, kita dapat mempertajam kepekaan kritis, menguji metodologi dan memperlihatkan tujuan penelitian kajian sejarah. Filsafat sejarah berkaitan dengan diskusi sehingga melatih pemikiran kita untuk lebih kritis pada pemikiran orang lain.

Lalu, di matkul PIS, kita juga akan belajar tentang hermeneutika. Kata Hermeneutika diambil dari bahasa Yunani yang berarti penerjemah atau menerjemah, menafsirkan. Sejarawan perlu untuk menafsirkan teks  dan menerangkan suatu perbuatan. Menafsirkan teks yang seolah-olah mengatasi masa silam serta bahan sejarah agar menentukan titik tolak dari mana kita dapat melihat kesatuan dan
kebertautan. Dalam menerangkan tentang perbuatan, kita menggunakan bahan sejarah agar dapat lebih dalam menyelami masa silam.

Diatas itu review dari catatan pribadi Viyaya untuk matkul PIS. Jadi mohon maaf kalau gak detail karena ini sifatnya hanya review kuliah selama satu semester dan maaf juga kalau ada yang berpendapat kepanjangan. Terimakasih buat mas Yudha (Dr. Yuda B. Tangkilisan, S.S., M.Hum.) yang udah menjadi dosen PIS. Dan sekali lagi mohon maaf apabila ada yang salah san khilaf, karena sekali lagi postingan ini sifatnya hanya review pemahaman viyaya tentang Matkul PIS kemarin. Viyaya sangat terbuka apabila ada masukan, terimakasih ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar