Untuk pertama kalinya aku pergi ketempat yang sama sekali belum pernah didatangi dan belum jelas tempat tujuannya kemana. Ke Bojonegoro, kampung halamannya apah(kakek)ku. Sudah 40thn lebih apah gak pulang ke bojonegoro. Selama 17thn aku hidup, kalau kumpul keluarga ibu, udah ramai sih sama keluarga kakak(keluarga pakde) dan adik-adik(keluarga tate dan om) ibu yang kalau sudah kumpul di rumah amah(nenek) udah ramai dengan tiga puluhan anak cucu amah apah. Trus kalau kumpul sama keluarga saudara generasi kakek-nenek, paling cuman kenal saudara-saudaranya amah. Gak pernah yang namanya aku kenal saudara kandung apah satupun. Baru kali ini aku berkunjung ke saudara kandung apah yang sudah terpisahkan 40tahunan. Mungkin karena faktor lokasi kampung apah yang jauh dari jakarta, jadi apah udah sibuk ngurusin anak-anaknya(ibu dan tujuh saudaranya yang lain) jadi gak sempat berkunjung lagi ke jawa timur, berbeda dengan amah. Amah besar dijakarta, saudara kandungnya juga semua ada di sekitar jakarta-bandung, jadi kalau kumpul keluarga generasi kakek-nenek lebih gampang dengan keluarga amah karena dekat dan memang sudah kenal akrab sampai menganggap adik-adiknya amah sebagai nenek sendiri.
Biasanya kalau liburan viyaya itu terjadwal. Kalau Februari biasanya ngerayain ultah sama papa dan keluarga besar papa di jogja dan semarang; mei dan juni jatah berkunjung aku ke papua, tempat papa kerja; libur lebaran dan liburan desember waktunya sama keluarga besar ibu. Biasanya desember ke bandung buat silaturahmi sama keluarga besar amah. Desember ini direncanakan untuk ke bojonegoro. Memang sudah permintaannya apah, pengen gitu kali-kali pulang kampung. Aku pun bingung gimana ceritanya bisa apah gak pernah ngenalin saudara-saudaranya ke kami para cucu dan anaknya. Tidak semua anak cucu amah apah berkunjung ke bojonegoro, padahal ibu aku udah memesankan tiket dua bulan sebelumnya untuk 30orang anak cucu amah apah, tapi jadinya yang ikut setelah dihitung-hitung hanya sekitar 19orang. Sisanya ada keperluan mendadak dan pakde mendadak jatuh sakit jadi gak bisa ikut.
Kami ber 19 berangkat bermodal ingatan apah tentang nama desanya saja. Karena apah udah lost contact sama sekali dengN adik-adiknya dan memang udah gaktau kabar saudaranya apakah masih ada atau tidak, kita gak tau. Intinya kita berangkat sudah berniat untuk silaturahmi, gak peduli apakah bakalan nyasar, ketemu atau tidak syukur-syukur masih bisa ketemu. Masalahnya bojonegoro sekarang pasti udah berubah banget sama bojonegoro 40tahun lalu seperti ingatan apah dulu. Setelah sepuluh jam naik kereta dari jakarta, kami sampai di bojonegoro pukul 00 tepat tanggal 29 desember. Kami langsung istirahat menuju hotel. Aku tidur bersama para sepupu cewe yang sepantaranku. Sampai jam 2 kami belum bisa tidur, padahal aku udah capek banget, karena sudah kecapekan duduk di kereta selama 10 jam. Dan akhirnya kami baru tertidur jam 3 pagi.
Selasa, 29-12-2015
Aku bangun jam setengah tujuh dan langsung mandi pagi. Setelah sarapan, kami ber 19 termasuk apah-amah dan para anak-beserta mantu juga cucu-cucu apah berangkat menuju tempat tinggal apah dengan menyewa elf dengan kapasitas 21orang. Aku masih lelah karena hanya tidur sekitar tiga jam juga rada bad mood karena jalanannya gak mulus dan lama sekali untuk sampai. Sekitar dua jam mencari lokasi rumah apah dulu, kita ternyata nyasar dan terlewat jauh. Kita mulai bingung juga saat apah ternyata udah mulai bingung karena ingatan jalannya berbeda dengan jalan yang sekarang.
Kita balik lagi ke perempatan pertama belok dan turun untuk bertanya. Yang turun para tante dan ibu juga apah amah, para cucu hanya di dalam mobil elf karena pada bosan soalnya gak nyampe-nyampe. Kita tunggu di mobil kok lama banget gak balik lagi para ibu kami.
Kita pun para cucu turun karena kami fikir apah-amah dan para ibu lagi makan bakso di warung. Pas nyampe warung, ada ibu-ibu nangis cerita ke apah, aku fikir dia lagi curhat gitu karena ketipu atau kenapa. Tapi ternyata kata salah satu tante aku, dia itu adalah keponakan apah, anak dari adik ketiga apah. Aku rada terharu juga, bisa ketemu di warung tempat kita mau nanya. Dari warung itu, kami jalan menuju rumah adik ketiga apah. Sampai dirumahnya, adik apah langsung memeluk apah dan nangis. Kaget juga mungkin, karena tanpa kabar apa pun kita alhamdulillah bisa sampai kerumah adiknya apah itu, hanya bermodalkan ingatan apah. Mulai baper deh, iya lah, empat puluh tahun gak ketemu, dan alhamdulillah sekarang kabarnya masih ada dan dimudahkan bertemu. Aku sih gak ngerti apa-apa dan gak kenal keluargnya apah disini, jadi cuman bisa terharu, baper, juga kepo itu siapa, ini siapa. Gituuu.
Disana para generasi pertama apah, mulai bertukar nomor telepon dan ngobrol-ngobrol. Trus dapat juga kontak anaknya adiknya apah yang pertama. Rumahnya di bojonegoro kota. Jadi abis dari rumah adiknya apah yang ketiga, kita langsung ke rumah adiknya apah yang pertama. Kami bersyukur sekali, dapat dimudahkan jalannya untuk bertemu. Padahal kalau difikirkan kemungkinan ketemunya itu kecil sekali karena jalan bojonegoro kan udah berubah, juga ingatan apah mungkin udah gak sebagus dulu. Tapi alhamdulillah ingatan apah kuat sekali, alhamdulillah yah allah ^^
Sebelum ke tempat adik pertama apah, kami sempatkan ke tempat wisata sebentar, kayangan api. Setelah itu sampai dirumah adik pertama apah. Mbah yang ini lebih baper lagi, kita terharu ngelihat pertemuan apah dan adiknya. Kangen sekali yah rasanya tidak bertemu kakak kandung selama empat puluh tahun. Aku aja cuman berkesempatan ketemu papa dua kali setahun udah kangen banget rasanya. Jangankan papa, gak ketemu ibu empat hari aja udah sedih banget. Apalagi ini apah sama adik-adiknya yang tidak bertemu puluhan tahun. Rasanya pasti bersyukur banget bisa ketemu lagi saat ini.
Sampainya di hotel, aku nanya-nanya ibu tentang cerita keluarga apah. Jadi tuh dulu apah itu anak petani (mohon maaf) miskin yang tinggal di desa. Tetapi apah itu cerdas dan pintar banget, jadi apah itu diangkat anak sama ibu kolonel, dan dibawa ke jakarta untuk disekolahkan. Lulus SMA disekolahkan kembali untuk dipersiapkan jadi abri. Lalu bertemu dengan amah, anak polisi yang bisa dibilang saat itu bapaknya amah itu cukup dipandang di jakarta.
Akhirnya apah menikah sama amah saat usia apah 21tahun dan amah 16tahun. Seharusnya apah jadi abri, menurut cerita ibu, amah ngelarang apah jadi tentara. Jadi apah jadi karyawan swasta gitu. Dulu saat anak apah masih ibu dan pakde ris, apah masih pulang ke bojonegoro. Mulai tante novi berikut ke tujuh anaknya lahir, apah-amah udah jarang ke bojonegoro karena mungkin ribet anaknya banyak. Dan baru kesampaian ke bojonegoro lagi sekarang. Setelah berpisah puluhan tahun juga tanpa kabar sama sekali, alhamdulillah dipertemukan sekarang ^^
Terlihat jelas kalau apah itu bahagia banget bisa bertemu adik-adiknya setelah puluhan tahun berpisah juga sudah tidak tinggal bersama semenjak mereka kecil. Memang, ikatan darah itu lebih kental daripada air. Tak peduli apah dan saudaranya dibesarkan di kota yang berdeda dengan orang tua yang berbeda, tetapi rasa ikatan batin dari satu turunan darah itu masih erat. Alhamdulillah bersyukur sekali sama ATYME yang mempermudah jalan kami untuk bersilaturahmi :) ^_^
Masyaallah incess 😇
BalasHapusSubhanallah yah syar :)
Hapus