Rabu, 05 Agustus 2015

Masuk Ilmu Sejarah UI, Anugrahkah? Atau Hanya Sekedar Hoki?

Asaalamualaikum Wr. Wb. Lama tak jumpa ^^ hari ini aku akan menuliskan sepenggal curahan hati yang mungkin bisa menjadi pelajaran bagi diriku sendiri dan orang lain. Semoga bermanfaat, aamiin.

Tanggal 9 mei 2015, adalah saat yang paling aku tunggu. Saat itu adalah saat pengumuman kelulusan PTN jalur SNMPTN -undangan-. Hari itu aku berusaha untuk tenang, tetapi tetap saja deg-degan. 9 mei siang sepulang bimbel untuk persiapan SBM, aku pulang ke rumah apah -kakek- karena tidak berani membuka hasilnya sendirian dirumah. Jam 5 kurang lima menit, aku sudah memegang ipad 3 milik adik ku dengan ditemani lieke -sepupu- yang duduk di sofa disebelah kananku juga apah dan amah yang duduk di sebelah kiriku.  

Jam 5 pas aku mencoba masuk ke alamat web hasil pengumuman SNMPTN, dan ketika mengetik NISN juga tanggal lahir, kedua ibu jariku bergetar sulit untuk mengetik. Saat mengetik enter, dan keluar hasilnya, aku tak langsung melihatnya dan agak sedikit kurang fokus. Aku langsung kaget saat mendengar lieke berteriakan, 'yayaaaa' -panggilan kecilku dirumah-!!!! Sontak aku kaget dan bertanya sama lieke 'kenapa ke? Kenapa?' Aku berbicara dengan nada agak panik. 'Itu lihat hasilnya dibawah' jawab lieke. Walaupun ipad dipangkuan, aku memang tidak melihatnya. Tidak tau, saat itu fikiranku sedang kosong. Mungkin aku gerogi dan takut melihat hasilnya kalau seandainya mengecewakan. Dan ketika melihat hasilnya, aku kaget dan sangat bersyukur. Alhamdulillah ya allah aku diterima di Universitas Indonesia, prodi Ilmu Sejarah. Alhamdulillah. Aku langsung memeluk lieke, apah, juga amah yang saat itu ada di sampingku.

Saat itu ibu sedang berada di yayasan. Aku menghampirinya dari rumah bersama lieke. Awalnya aku memasang wajah (pura-pura) muram. Saat ibu bertanya hasilnya. Aku tidak menjawab dan terlihat sedih. Ibu berkata, jangan sedih, masih ada SBMPTN kok ya. Tetapi aku dan lieke langsung tertawa dan berkata yang sebenernya kalau aku lulus. Dan ibu juga langsung memeluk aku juga mencium keningku. Terlihat rona bahagia di muka ibu. Alhamdulillah ya allah.

Setelah itu, beberapa grup di line banyak yang rame membahas bagaimana hasilnya. Temanku yang lain sudah men-screen capture hasil SNM -nya yang diterima dan menerima ucapan selamat. Begitu pula aku. Banyak temanku yang mengucap selamat, dari mulai teman SD, SMP, juga SMA yang di jakarta, teman SMP yang dari papua, beserta seluruh keluarga besar hasan husen di seluruh Indonesia yang mengenalku.

Banyak yang 'menyelamati', juga tak sedikit yang memberikan ucapan tak menyenangkan. Walaupun tidak berbicara langsung kepadaku, aku mengetahui ada beberapa orang yang berkata tidak mengenakan untuk aku dengar. Seperti 'viyaya itu kan tidak pintar, hoki aja tuh dia dapet(SNMPTN)' . Aku memang anak yang sensi -bahasa sekarangnya baper-. Aku gampang terpengaruh dengan kata-kata orang yang menyakitkan, biasanya aku bisa langsung nangis. Tetapi, aku berusaha untuk mencerna kata-kata *orang itu*. Aku langsung ngaca, apakah aku tidak pintar? Apakah ini hanya sekedar hoki? 

Setelah aku berfikir apa yang aku lakukan selama ini, aku rasa ini bukan hanya sekedar hoki. Aku ingat, kelas 11 memang aku pernah sekelas dengan orang itu. Dan saat di semester 3 -kelas 11 semester 1- memang saat ketiga kali menjalani UB -Ujian Blok- di semester itu aku selalu memperoleh banyak mata pelajaran yang remedial -dibawah kkm-. Mengapa saat itu aku banyak remedial? Karena aku merasa saat itu adalah saat yang tersulit bagiku untuk beberapa pelajaran. Aku yakin beberapa siswa juga sependapat. Tetapi sangat miris aku melihat teman-temanku. Mereka menghalalkan segala cara untuk mengisi hasil UB walaupun tak mengerti bagaimana cara menjawabnya -mengertilah yang dimaksud menghalalkan segala caranya apa-. Tetapi aku tidak sepenuhnya kaku. Ketika ada yang bertanya kepadaku dan aku bisa menjawabnya, tentu aku beri tahu. Bahkan ada siswi yang menyalin seluruh pekerjaanku di saat pengawas tak melihat. Tetapi, aku berusaha untuk tak pernah sekalipun -dan alhamdulillah terlaksana- menyontek dari semenjak UB pertama sampai ketiga disetiap semester dari kelas 10. Walaupun nilai di raport ada yang pas-pas an KKM, tapi aku bersyukur itu hasil jerih payah aku sendiri.

Setelah melihat hasil UB aku tergolong siswi yang remednya banyak, tetapi siswa lain yang menyontek pada ku, lebih sedikit remednya dari aku. Mengapa? Karena ketika melihat jawaban yang tidak bisa aku isi, dia langsung bertanya ke temanku yang lain tapi insya allah, aku ikhlas kalau sering dicontekin walau agak sedikit sebel.

Aku pun pernah ditegur sama *orang itu*. Katanya begini 'viy, sekali-kali gapapa lah nanya pas UB, daripada remednya banyak'. Aku menjawab 'kalau bisa jujur kenapa enggak ** -panggilannya-'. 'Tapi kan di universitas gak bakal ditanya itu nilai dapet darimana' jawabnya. Mungkin saat itu aku terkesan kolot dan sok alim. Tetapi aku berusaha meyakinkan diriku kalau aku benar kok. Tidak apa-apa banyak remedial, toh itu murni hasilku sendiri. Kan nilainya masih bisa diremed walaupun hanya mendapat nilai pas KKM nantinya

Aku memang bukan seorang muslim yang taat, tapi aku berusaha untuk menaati perintah-Nya dan berusaha untuk menjauhi larangan-Nya. Aku memang hanya memilih satu universitas juga satu program studi. Ilmu Sejarah UI. Mungkin karena prodinya 'Ilmu Sejarah' jadi orang memandang sebelah mata. Bahkan ada juga yang berfikiran 'mungkin viyaya milih yang penting masuk ui, jadi dia ambil yang sepi peminat, jadi lolos deh SNM'. Mengapa aku hanya memilih satu prodi dan satu universitas? Apakah hanya yang penting masuk ui? Tidaaaaak!! Aku memilih Ilmu Sejarah karena itu lah jurusan yang aku minati sejak awal ingin masuk PTN. Saat ditanya pas kelas 10, mau ambil apa kelas 11nya? Disaat siswa lain kebanyakan menjawab, kalau bisa sih IPA. Aku menjawab dengan PDnya, mau masuk IPS. Dan saat ditanya saat kuliah mau ambil jurusan apa. Aku menjawab dengan PDnya ingin mengambil Ilmu Sejarah dan disaat temanku yang lain menjawab 'kelas 11 dulu lah masuk ipa', 'masih lama juga, masih bingung mau ambil apa nanti' -namun saat kelas satu aku masih ragu memilih PTN mana yang pas. Dan setelah membaca review beberapa mahasiswa lain di blog, Ilmu Sejarah yang bagus dan terdekat adalah di Universitas Indonesia. Makanya aku memutuskan untuk mengejar SNMPTN ke UI Ilmu Sejarah semenjak niat itu sudah ada, iya aku sudah keukeuh ingin masuk jalur undangan pada prodi Ilmu Sejarah UI.

Makanya melihat kelas 11 aku yang nilainya lumayan banyak yang pas-pas KKM, aku hanya bisa meminta kepada Allah. Karena aku tidak punya kuasa apa-apa lagi untuk mengubah nilai-nilai itu dan menjadikan langsung lulus SNMPTN. -bukan bermaksud riya, semoga bisa menjadi pelajaran- aku selalu berdoa  disetiap sholat kepadanya untuk dipermudah lulus SNM. Makanya aku pasrah sekali ketika memilih satu prodi di SNMPTN. Karena yah aku cuman minat di sejarah, gak mau ambil akuntansi, ekonomi, atau sastra lainnya -yang katanya gampang masuknya karena peminatnya dikit- apalagi kedokteran juga teknik atau jurusan lainnya. Yah karena aku ingin tahu dan mempelajari apa yang telah orang-orang lakukan di masa lalu, juga dengan alasan aku gak bisa berpindah dari masa lalu.

Memilih satu prodi awalnya bukan tidak diragukan sama saudaraku lainnya. Belajar dari pengalaman lieke tahun lalu yang hanya memilih satu prodi di SNM dan tidak keterima -alhamudilillah keterimanya di penmaba unj, prodi pendidikan BK- , aku juga dibayangi takut tidak direrima. Tetapi, aku tetap hanya memilih satu prodi, toh kalau tidak lulus, masih bisa mencoba SBM dan Simak. Mengapa? Yah karena aku minatnya di Sejarah UI. Gak mau yang lain.

Kesimpulannya, aku bisa sampai ditahap ini bukan hanya sekedar hoki atau pun hanya sekedar yang penting masuk ui. Jurusan ini adalah jurusan impianku sejak lama. Sekarang aku sedang belajar untuk menghiraukan beberapa orang yang memberi kata-kata tidak enak itu. 

Pelajarannya untuk aku dan kita semua adalah apapun usaha mu, hasilnya serahkanlah semuanya kepada allah. Mintalah segala sesuatu hanya kepada allah, dan jangan sekali-kali berfikiran untuk memakai cara curang. Kalau sudah terlanjur, mengaku lah bersalah dan banyak-banyak lah beristigfar kepadanya. Insya allah segala sesuatunya akan dilancarkan oleh allah. Aamiin. Dan satu pelajaran lagi adalah, janganlah asal mengomentari hidup orang lain, toh anda tidak mengetahui tantangan apa yang telah ia lalui dan usaha apa yang telah ia lakukan untuk meraih kesuksesnya.  Sukses selalu untuk kita semua dan tak lupa maafkan apabila ada kata-kata yang menyindir.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

4 komentar: